Persepsi Santri Terhadap Kitab Kuning

  1. 1. Pendahuluan.

Sejak semula kitab kuning memang diprogram sebagai kitab panduan hukum hanya kepada masyarakat ketika dan di mana dia diturunkan, kalaupun ada beberapa hal-hal yang tidak akan pernah berubah hal itu bukan merupakan kehendak pribadi kitab kuning namun lebih disebabkan kehendak sosial kemasyarakatan yang menghendaki seperti itu. Dinamika masyarakat senantiasa berubah, apalagi dalam kurun dekade terakhir ini, sementara teks kitab kuning tidak akan pernah berubah. Maka dibutuhkan proses dialogis antara teks dan konteks. Dengan demikian, pemikiran ke arah pengenalan dan aktualisasi kitab di dalam masyarakat harus dianggap sebagai sesuatu yang berkelanjutan.[1]

Sosialisasi nilai kitab sesungguhnya tiada lain adalah melakukan upaya-upaya sofistifikasi agar nilai-nilai kitab dapat diterima masyarakat. Dengan kata lain, bagaimana menjadikan kitab kuning yang berasal dari daerah dan masa yang asing dapat dianggap oleh masyarakat lokal sebagai bagian yang inheren atau sesuatu yang terkait dengan nilai lokal mereka, tanpa mereka harus mengorbankan apa yang telah mereka miliki. Pada sisi lain, bagaimana memberikan  tempat bagi nilai-nilai dasar kitab kuning di dalam kapling nilai-nilai universal. Atau  bagaimana menjadikan kitab kompetibel dengan nilai peradaban modern, tanpa ada perasaan inverior.

Nilai-nilai universal kitab dan nilai kebudayaan lokal masyarakat memerlukan proses akulturasi. Kedua nilai tersebut tidak harus berhadap-hadapan satu sama lain, namun potensi konflik antara keduanya boleh jadi tetap akan ada. Makin banyak perbedaannya, maka makin sulit pula proses akulturasi berjalan, namun semakin banyak persamaannya maka makin lancar  proses akomodasi berjalan. Nilai-nilai kitab kuning dalam sejarahnya tidak saja bisa menjinakkan semua sasarannya, tetapi dirinya juga terpaksa diperjinak setidak-tidaknya untuk sementara waktu, sebagai konsekuensi dari isinya yang bersifat unversal.

  1. 2. Persepsi Santri

Pendapat yang mengatakan bahwa santri telah memperlakukan kitab kuning layaknya al Quran memang tidak sepenuhnya salah, walaupun pernyataan ini juga tidak seluruhnya benar. Setidak-tidaknya hal seperi itulah yang tercermin dari hasil wawancara dengan beberapa orang santri ketika ditanya pendapat mereka tentang kitab kuning.[2] Bagi mereka kebenaran dan relevansi kitab kuning tidak perlu diragukan dan dipertanyakan kembali, karena kitab kuning ditulis oleh ulama salaf yang ikhlas di samping kitab juga dikarang berdasar al Quran dan al Hadits, yang dengan sendirinya juga akan mengikuti prinsip al Quran dan al Hadits yang bersifat universal dan absolut. Meragukan kitab kuning sama halnya dengan kita meragukan al Quran dan al Hadits dan itu tidak akan pernah dilakukan oleh seorang muslim kecuali bagi orang yang memiliki sifat fasiq dan munafiq.

Pernyataan yang lebih moderat dikemukakan oleh minoritas santri yang mengatakan bahwa pendapat yang menganggap bahwa sudah tidak ada ruang bagi kesalahan dalam kitab kuning itu sudah keterlaluan  dan melampaui batas karena berarti telah menyamakan antara kitab kuning dan al Quran, karena hanya al Quran satu-satunya kitab yang tidak mengandung kesalahan, menyamakan keduanya berarti juga telah menyamakan Allah dengan makhluknya dan itu sama halnya dengan syirik. Ulama sebagai manusia biasa juga mempunyai potensi untuk membuat kesalahan termasuk juga kesalahan dalam menginterpretasikan hukum Islam di dalam kitab-kitab mereka. Mereka secara jujur mengakui jikalau tidak semua permasalahan terdapat jawabannya di dalam kitab kuning, hal itu karena memang kitab ditulis pada jaman yang berbeda dengan jaman di mana persoalan kontemporer itu muncul. Namun hal itu tidak melunturkan rasa hormat mereka terhadap peran para ulama yang telah mencurahkan perhatian mereka kepada kemajuan keilmuan Islam, tapi bagaimanapun juga mereka tetap tidak setuju pendapat yang mengatakan kitab kuning adalah daerah yang bersih dari segala kesalahan karena pernyataan itu bertentangan dengan pandangan ulama salaf sendiri, sebagaimana yang dikatakan oleh imam Ahmad:[3]

Ambilah ilmu-ilmu kamu dari mana para imam telah mengambilnya dan tidak cukup bagimu untuk bertaqlid saja karena itu adalah sebuah kebodohan, dan jangan mengikuti saya, Malik, al Auza’ie, Imam Nakho’i, dan yang lainnya. Tapi ambilah hukum sebagaimana yang mereka ambil. Kamu juga jangan menulis apa yang saya fatwakan karena apa yang saya ucapkan sekarang, boleh jadi saya akan menariknya suatu saat nanti.

Hal yang kurang lebih sama juga ditulis Imam al Qarafi, karena beliau juga menangkap adanya upaya pengkultusan individu yang nantinya bisa mengakibatkan kemunduran umat Islam, yang tercantum dalam salah satu kitab beliau:[4]

Hukum Islam sebenarnya tidak terpaku pada teks-teks kuno seperti saat ini, maka jangan lah kamu mempercayai seandainya ada seseorang yang memfatwakan hukum di antara kamu dengan bersumber dari adat yang dia miliki karena adat yang ada pada dirimu belum tentu sama dengan yang dia punya. Dan sesungguhnya taqlid adalah kesesatan abadi di dalam agama karena hal itu telah mengabaikan tujuan-tujuan ulama salaf dan hal itulah yang telah membuat ajaran Islam bagai tercerabut dari akarnya.

Mereka meminta untuk menempatkan kitab kuning secara proporsional, sebagimana yang diinginkan para ulama sendiri, tanpa harapan yang berlebih-lebihan kepada kitab kuning untuk memberikan semua jawaban atas segala permasalahan, mencoba untuk mengikuti jejak para ulama tidak saja dengan menggunakan karya-karyanya tetapi juga dengan mencoba menggunakan metode berpikir sebagaimana yang dilakukan para ulama dan yang lebih penting dari semua itu adalah menjauhi pengkultusan individu karena hal itu sangat bertentangan dengan misi agama Islam.

  1. 3. Intensitas Penggunaan Kitab Kuning oleh Santri [5]

Sebagai seorang santri yang tidak akan pernah terlepas dari persoalan keagamaan, baik itu berupa masalah pribadi, keluarga, maupun problem yang dihadapi masyarakat yang ditanyakan kepadanya sebagai seorang santri, ternyata mereka tidak bisa lepas jauh dari kitab kuning, hal ini terbukti dari data rekapitulasi angket yang diberikan kepada para santri dengan menanyakan intensitas penggunaan mereka terhadap kitab kuning. Mayoritas santri menjawab selalu mencari rujukan jawabannya dari kitab kuning ketika menghadapi persoalan agama.

Sebagian lagi mengaku kadang-kadang, karena mereka mulai menggunakan rujukan lain di samping kitab kuning sebagai rujukan utama. Kelompok ini hanya menggunakan kitab kuning di dalam permasalahan yang memang pasti ada pembahasannya dalam kitab, sedangkan dalam permasalahan kontemporer yang tidak penah dibahas di dalam kitab, mereka tidak menggunakannya, seperti dalam masalah bayi tabung, sperma beku, dan beberapa persoalan aktual lainnya. Menurut mereka memaksakan diri dengan mencarikan jawaban permasalahan kontemporer dalam kitab kuning, terlalu riskan dan berbahaya karena tidak memiliki tendensi dan pijakan  hukum yang jelas, keputusan yang ada selalu berdasarkan dugaan tanpa adanya kepastian karena menggunakan methode qiyas.

Sementara tidak ada santri yang menjawab pernah, karena mungkin kata ini memiliki konotasi negatif bagi santri dalam menggunakan kitab kuning, terutama dari pondok pesantren salaf. Juga menurut mereka kata pernah menunjukkan aib bagi seorang santri yang sekaligus juga memprtanyakan sikap dan status kesantrian mereka. Karena sebagimana umumnya santri tidak akan pernah terlepas dari kitab kuning.

  1. 4. Metode Pencarian Jawaban [6]

v   Metode Batshul Masail

Di tengah gencarnya sorotan terhadap metode batshul masail di pondok-pondok pesantren,[7] ternyata hal itu tidak mempengaruhi opini santri untuk memilih metode ini sebagi cara favorit dan yang paling sering digunakan oleh santri dalam mencari jawaban dalam kitab kuning. Hal itu dimungkinkan karena doktrin yang sudah melekat erat dari pesantren yang selalu mewajibkan santrinya untuk menggunakan metode ini, di samping para santri juga kurang begitu familiar dengan beberapa metode baru dalam mencari jawaban  dalam kitab. Bagaimanapun juga mengubah kebiasaan yang sudah lama tertanam bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah, walaupun cara-cara baru tersebut terbukti lebih baik.

v   Metode Muqorinah

Metode baru yang lebih dipilih santri setelah batshul masail adalah muqorinah kitab. Cara ini terbukti lebih mudah dan jawaban yang dihasilkan juga lebih koperensif, hal ini dimungkinkan karena dalam metode ini terbuka peluang untuk menggabungkan beberapa solusi yang dihasilkan oleh beberapa kitab yang berbeda. Namun yang menjadi kendala yang membuat metode ini masih kalah bersaing dengan batshul masail adalah keharusan untuk memperbanyak referensi, karena tanpa kekayaan referensi mustahil metode ini akan berjalan dengan baik.

v   Metode Tarjih.

Metode terakhir yang paling sedikit dipilih santri ialah metode tarjih kitab, karena mungkin metode inilah yang paling sulit, metode ini mengharuskan para santri untuk memahami dan menguasai betul permasalahan sebelum mencari jawaban dalam kitab kuning, dan masalah lain yang mungkin paling berat adalah metode ini menuntut para santri untuk menguasai beberapa aspek studi yang lain, terutama aspek kesejarahan.

  1. 5. Kendala dalam Mencari Jawaban[8]
  • Aspek Kebahasaan

Masalah klasik yang selalu dihadapi santri dalam mencari jawaban di dalam kitab kuning adalah aspek kebahasaan.  Hal itu bisa dimaklumi karena memang kitab kuning ditulis oleh orang arab yang dengan sendirinya juga tertulis dengan bahasa arab, bahasa yang sangat berbeda dengan bahasa kaum santri yang selalu berbicara dengan menggunakan bahasa ibunya, yaitu bahasa indonesia. Masalah bahasa memang menjadi masalah terberat yang dihadapi, hal itu masih ditambah dengan kenyataan bahwa bahasa arab di dalam kitab kuning telah berbeda jauh dengan bahasa arab yang dipakai oleh bangsa arab dalam percakapan sehari-hari di timur tengah. Bahasa kitab adalah bahasa arab kuno yang beberapa kosa katanya sudah tidak dipakai lagi pada saat sekarang.

  • Aspek Pemahaman Kitab

Masalah kedua yang sering ditemui santri dalam penggunaan kitab adalah kesulitan memahami isi kitab, terutama ketika mencoba menganalogikan (qiyas) permasalahan sekarang dengan problem yang dibahas para ulama dalam kitab-kitabnya. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, kebanyakan kitab kuning ditulis pada abad 4-6 H, yang tentunya memiliki kondisi sosiokultural yang berbeda dengan apa yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia utamanya saat ini. Sementara penggunaan kitab kuning sebagai pijakan untuk mencari jawaban menuntut adanya sebuah persamaan hukum atau dalam ilmu fiqh disebut dengan illat. Hal itu tidak akan mungkin tercapai jikalau kita tidak mengetahui apa yang dibicarakan ulama di dalam kitabnya sehingga kita bisa menarik sebuah konklusi hukum dari hal tersebut. Jikalau hal ini dibiarkan dengan tetap mengambil kesimpulan hukum tanpa mempertimbangkan dengan seksama illat antara keduanya maka jawaban atau hukum yang dihasilkan dihukumi batal dari segi fiqh.

  • Aspek Koleksi Kitab Kuning

Kesilitan ketiga yang dihadapi oleh para santri di dalam mencari jawaban dari kitab kuning adalah kelangkaan kitab yang ada di dalam lingkungan pesantren. Padahal pesantren sebagai pusat pendiddikan Islam sudah seharusnya memiliki koleksi kitab kuning lengkap sebagai acuan santri dalam kegiatan belajar. Sebagaimana kita maklumi koleksi kitab kuning yang dimiliki oleh pesantren hanya terbatas pada bidang fiqh itupun masih dalam koridor ruang lingkup fiqh Syafi’iyyah dan jumhur saja, sementara untuk fiqh mazhab lain hanya beberapa pesantren saja yang memilikinya. Itu masih dalam masalah fiqh, belum berpindah ke wilayah ahlaq (tasawwuf) yang selama ini masih mengandalkan kitab-kitab karya imam Ghazali saja tanpa menyertakan kitab lain sebagai pendukungnya. Apalgi dalam masalah aqidah, ilmu kalam, mantiq, dan berbagai macam kitab lain baik yang sealiran ahlu sunnah ataupun yang lain seperti syiah, khawarij dan aliran lain dalam Islam. Suatu hal sangat memprihatinkan dalam upaya santri untuk tetap eksis menggunakan kitab kuning.

  • Aspek Kurikulum Pesantren.

Ada sebagian kecil santri yang mengaku terkendala aturan main atau kurikulum di dalam mencari jawaban di dalam kitab kuning. Terlebih dahulu ada dua hal yang sering dikeluhkan para santri mengenai aspaek ini yang menjadi kendala, yang pertama mengenai orientasi pesantren dan yang kedua adalah metode pembelajaran kitab kuning di dalam pesantren.

Orientasi pesantren yang selama ini sering mengedepankan aspek bacaan daripada pencarian jawaban ternyata sering dikeluhkan santri. Pesantren pada umumnya, menekankan para santri untuk bisa membaca kitab kuning dengan lancar bukan hanya dengan satu macam bacaan tetapi juga berbagai macam bacaan, hal ini diakui ataupun tidak ternyata menjadi penghambat daya pikir santri untuk mendalami isi (jawaban) kitab. Santri menjadi kritis terhadap cara baca meliputi nahwu dan sharaf tetapi kebingungan dalam mencari jawabannya di dalam kitab. Sehingga santri seakan-akan diajarkan untuk hanya bisa membaca saja tanpa bisa mencari kandungan kitab, dan hal inilah yang sering dialami para santri, utamanya santri yang masih baru.

Hal kedua mengenai kurikulum yang dikeluhkan santri adalah sistem pesantren yang mengadopsi metode timur tengah yang lebih mengedepankan hafalan ketimbang kemampuan analisa berfikir,[9] memang dengan metode ini santri nantinya diharapkan bisa memperdalam keilmuannya dengan mempelajari dan mengulangi hafalannya  tanpa bantuan guru atau ustad, namun ada sisi negatif dalam metode ini yaitu santri tidak bisa mengembangkan daya berfikir kritisnya, hal ini sedikit banyak akan mempengaruhi santri dalam mencari jawaban karena dalam mencari jawaban di dalam kitab daya nalar kritis adalah suatu hal mutlak yang diperlukan. Tanpa melatih daya kritis tersebut kemampuan santri untuk mencari jawaban juga mengalami penurunan.

  1. 6. Penutup

Masyarakat pesantren, di manapun, pada mulanya adalah masyarakat pengguna kitab kuning. Kitab kuning yang merupakan derivasi praktikal dari al Quran dan al Hadits,[10] adalah landasan normatif dalam berperilaku, baik individu maupun masyarakat. Dalam posisi demikian, seorang santri mustahil melihat perubahan yang cukup berarti di dalam kehidupan komunitas pesantren. Posisi teguh kitab kuning yang oleh masyarakat dipegang sebagai tuntunan hidup, karena memang dia dibangun dari tambatan yang mustahil diruntuhkan. Tambatan itu bertaut pada wahyu yang transedental serta sabda dan perilaku nabi yang umat Islam percaya tidak ada keraguan di dalamnya.

Dan tampaknya hal ini disadari betul oleh para santri, bagaimanapun juga ternyata mereka memiliki keterkaitan erat dengan kitab kuning, yang saking eratnya kaitan tersebut sampai merekapun tidak pernah bisa lepas sepenuhnya dari bayang –bayang kitab kuning. Mereka masih dan terus percaya akan relevansi kitab kuning sebagai jawaban problematika masyarakat, walaupun banyak kalangan menilai kitab kuning sudah kadaluwarsa karena sudah ditulis kurang lebih 10 abad yang lalu. Para santri mencoba menyiasati umur kitab kuning yang sudah sangat tua dengan berbagai macam metode baru dalam pencarian jawaban di dalamnya agar tetap sesuai dengan segala macam problem kehidupan modern, dan diterima ataupun tidak ternyata upaya keras dari kaum santri terbukti sukses, hal itu terlihat dengan tetap dipakainya kitab kuning, terlepas dari sebagian pihak yang merasa kecewa dengan jawaban yang ada dalam kitab kuning karena terkesan dipaksakan. Hal ini menjadi bahan belajar dan pikiran kita bahwa ternyata kitab kuning dengan segala  metodenya baik baru maupun lama ternyata tetap eksis dan relevan dalam memecahkan persoalan masa kini. Penulis juga berharap khususnya kepada para santri janganlah menjauh dari kitab kuning karena kitab seperti halnya SDA yang selalu memerlukan penanganan untuk diambil manfaatnya, dan insyaallah kitab kuning tetap akan relevan bagi kaum santri sampai kapanpun.

Daftar Pustaka

Al Qarafi, Imam. Al Furuq. Tt. Kairo. Darul Kutub.

Ghafur, Waryono Abdul. Tafsir Sosial.2005. Yogyakarta: ELSAQ Press.

Kruzman, Charles. Wacana Islam Liberal. 2003. Jakarta: Paramadina.

Mahfudh, Sahal. Nuansa Fiqh Sosial. 1994. Yogyakarta: LkiS.

Nasih, Ahmad Munjin. Kaum Santri Menjawab Problematika Sosial. Malang. Penerbit UNM.

Zuhaily, Wahbah. Ushul fiqh. 1987. Kairo. Darul Kutub.


[1] Waryono A Ghafur. 2005. Tafsir Sosial. Yogyakarta; ELSAQ Press. hlm. 12

[2] Rekapitulasi angket yang diajukan kepada 50 orang santri

[3] Wahbah zuhaily. 1987. ushul fiqh. Kairo; Darul Kutub. hlm. 254

[4] Imam al Qarafi. Tt. al Furuq. Kairo; Darul Kutub. hlm. 396

[5] Rekapitulasi hasil angket yang diajukan kepada 50 orang santri, 37 menjawab selalu menggunakan kitab kuning dalam memecahkan problem keagamaan, 13 menjawab kadang-kadang, tidak ada yang menjawab pernah.

[6] Loc. cit. 28 santri menjawab menggunakan batshul masail, 20 menjawab muqorinah, dan 2 menjawab tarjih kitab.

[7] Ahmad Munjin Nasih. 2005. Kaum Santri Menjawab Problematika Sosial. Malang. Penerbit UNM. hlm. 84

[8] Rekapitulasi hasil angket yang diajukan kepada 50 orang santri, 24 menjawab kendala kebahasaan, 12 menjawab pemahaman, 6 menjawab koleksi, dan 8 menjawab aspek kurikulum.

[9] Charles Kurzman. 2003. Wacana Islam Liberal. Jakarta. Paramadina. hlm. 439

[10] Sahal Mahfudh. 1994. Nuansa Fiqh Sosial. Yogyakarta. LkiS. hlm. 81

3 Komentar

  1. moch maftuhil hadi said,

    Januari 17, 2010 pada 4:18 am

    saya setuju sekali dengan pemaparannya bahwa kitab kuning itu adalah makanan keseharian bagi santri salafi

  2. age said,

    Juni 12, 2010 pada 4:16 am

    yang terpenting Al-Qur’an tempat kembalinya urusan dan tidak mengkultuskan sebuah karya seolah sama derajat dengan Al-Qur’an.

    • andra said,

      September 12, 2016 pada 3:15 am

      Bagus….biar kita beda dengan mereka asal kita tidak beda dngan Rosulullah …aku tinggalkan 2perkara tidak akan sesat selama berpegang pada keduanya (al-quran & hadits)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: