Pluralitas dan Pluralisme Agama

A. Pluralisme dan Pluralitas Agama

imagespluralIstilah pluralisme disini harus dibedakan dengan pluralitas. Meskipun di antara keduanya sering dipakai secara bergantian tanpa ada penjelasan tentang apakah dua kata ini mempunyai arti yang sama atau tidak. Secara sekilas memang kedua kata ini sama, yaitu terbentuk dari kata plural, yang berarti jama’, atau banyak. Namun ketika kedua kata ini sudah terbentuk menjadi kata pluralisme dan pluralitas maka akan menjadi berbeda pula maknannya.

Pluralitas secara lughowi berasal dari kata plural (Inggris) yang berarti jama’, dalam arti ada keanekaragaman dalam masyarakat, ada banyak hal lain diluar kelompok kita yang harus diakui. Lebih luas lagi pluralisme adalah sebuah “ism” atau aliran tentang pluralitas. Yang dimaksud pluralisme adalah bukan sekedar keadaan atau fakta yang bersifat plural, jama’, atau banyak. Pluralisme adalah suatu sikap yang mengakui dan sekaligus menghargai, menghormati, memelihara, dan bahkan mengembangkan atau memperkaya keadaan yang bersifat plural, jama’ dan banyak itu.[1]

Dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary (2000) disebutkan bahwa pluralisme adalah keberadaan atau toleransi keragaman etnik atau kelompok-kelompok kultur dalam suatu masyarakat atau negara, serta keragaman kepercayaan atau sikap dalam suatu badan atau kelembagaan.

Sedangkan yang dimaksud dengan pluralitas adalah kemajmukan yang didasari oleh keutamaan (keunikan) dan kekhasan. Karena itu, pluralitas tak dapat terwujud atau diadakan atau terbayangkan keberadaannya kecuali sebagai antitesis dan sebagai objek komparatif dari keseragaman dan kesatuan yang merangkum seluruh dimensinya.[2]

B. Iman dan Islam

1. Iman

Termasuk prinsip ‘aqidah Salafush Shalih, Ahlus Sunaah wal Jamaah: Bahwa iman menurut mereka adalah, “Membenarkan dengan hati, diucapkan dengan lisan , diperbuat dengan anggota badan, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan”.[3]

Iman (Makna iman secara bahasa yaitu membenarkan, menampakan kekhusyu’an dan iqrar (pernyataan/pengakuan). Adapun makna iman secara syar’i yaitu segala bentuk ketaatan bathin maupun zhahir. Ketaatan bathin seperti amalan hati, yaitu pembenaran hati. Sedangkan yang zhahir yaitu perbuatan  badan yang mencakup berbagai kewajiban dan amalan-amalan sunnah. Intinya iman itu adalah yang menghujam kokoh di dalam hati dan dibenarkan dengan perilaku dan sikap, sedangkan buahnya iman itu nampak nyata dalam pelaksanaan perintah Allah dan menjauhi dari segala larangan-Nya. Dalam al-Qur-an tidak disebutkan iman saja tanpa disertai dengan perbuatan, namun digabungkan antara iman dan amal shalih di banyak ayat) itu mencakup ucapan dan perbuatan:

– Ucapan hati dan lisan

– Perbuatan hati, lisan dan badan.

Ucapan hati, yaitu: Kepercayaan, pembenaran, pengakuan dan keyakinannya. Sedang ucapan lisan, yaitu: Pengikraran perbuatan, artinya mengucapkan dua kalimat syahadat dan melaksanakan konsekwensinya.

Adapun perbuatan hati, adalah niat, taslim (penyerahan), ikhlas, tunduk, cinta dan kehendaknya untuk berbuat amal shalih. Sedangkan perbuatan lisan dan badan adalah mengerjakan perintah dan meninggalkan segala larangan.[4]

Allah telah menyebutkan sifat orang-orang mukmin sejati didalam al-Qur’an untuk orang-orang yang beriman dan beramal shalih dengan apa yang mereka imani, berupa prinsip-prinsip agama maupun cabangnya; baik yang zhahir maupun bathin. Dan pengaruh iman tersebut nampak  tercermin dalam ‘aqidah, ucapan dan perbuatan mereka, yang zhahir maupun yang bathin. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlan iman mereka (karenanya) dan kepada Rabb-lah mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian disisi Rabb-nya dan ampunan serta rizki (nikmat) yang mulia.” (Al-Anfaal: 24).

2. Islam

Arti Islam dalam bahasa Arab ialah menyerah diri. Dari ayat-ayat Al Quran dapat disimpulkan bahwa penyerahan diri yang dimaksud dalam Islam sangat jelas yaitu kepada Allah Ta’ala.

Istilah Islam mempunyai dua pengertian, pertama, mengikrarkan dengan lidah, baik itu lidah dibenarkan oleh hati ataupun tidak. Kedua, mengikrarkan dengan lidah, membenarkan dengan hati dan mengamalkannya dengan sempurna dalam prilaku hidup serta menyerahkan diri kepada allah dalam segala ketetapan-Nya, baik qada’ maupun qadar-Nya.

Menurut Ibnu Taimiyah, islam adalah ad-din yang maknannya ialah tunduk dan merendahkan diri kepada Allah. Oleh karena itu, islam berarti pula ”menyerahkan diri kepada Allah sendiri, tidak memperserikatkan-Nya dengan sesuatu apapun”.Orang yang memperserikatkan-Nya dalam menyembah-Nya tidaklah dihitung sebagai orang islam.[5]

Mana yang didahulukan antara iman dan islam? Menurut pemaparan diatas sebenarnya dari segi maknanya makna iman dan islam sama. Namun sebaiknya iman yang lebih didahulukan, sebagaimana hadits yang diriwayatkan Bukhori dan ibnu Umar yang artinya:

”Islam dibina atas lima sandi pokok, yaitu: mengakui keesaan Allah dan mengakui kerasulan Muhammad, mendirikan sholat, mengeluarkan zakat, mengerjakan haji, dan berpuasa Romadhan”.

C. Aqidah dan Syari’ah

1. Aqidah

Secara etimologi kata “aqidah” diambil dari kata dasar “al-‘aqdu” yaitu ar-rabth (ikatan), al-Ibraam (pengesahan), al-ihkam (penguatan), at-tawatstsuq (menjadi kokoh, kuat), asy-syaddu biquwwah (pengikatan dengan kuat), at-tamaasuk (pengokohan) dan al-itsbaatu (penetapan). Di antaranya juga mempunyai arti al-yaqiin (keyakinan) dan al-jazmu (penetapan).”Al-‘Aqdu” (ikatan) lawan kata dari al-hallu (penguraian, pelepasan). Dan kata tersebut diambil dari kata kerja: ” ”Aqadahu-Ya’qiduhu” (mengikatnya), “Aqdan” (ikatan sumpah), dan “Uqdatun Nikah” (ikatan menikah). Allah Ta’ala berfirman, “Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja …” (Al-Maa-idah : 89).

Aqidah artinya ketetapan yang tidak ada keraguan pada orang yang mengambil keputusan. Sedang pengertian aqidah dalam agama maksudnya adalah berkaitan dengan keyakinan bukan perbuatan. Seperti aqidah dengan adanya Allah dan diutusnya pada Rasul. Bentuk jamak dari aqidah adalah aqa-id.[6] Jadi kesimpulannya, apa yang telah menjadi ketetapan hati seorang secara pasti adalah aqidah; baik itu benar ataupun salah.

Sedangkan pengertian Aqidah Secara Istilah (Terminologi) Yaitu perkara yang wajib dibenarkan oleh hati dan jiwa menjadi tenteram karenanya, sehingga menjadi suatu kenyataan yang teguh dan kokoh, yang tidka tercampuri oleh keraguan dan kebimbangan. Dengan kata lain, keimanan yang pasti tidak terkandung suatu keraguan apapun pada orang yang  menyakininya. Dan harus sesuai dengan kenyataannya; yang tidak menerima keraguan atau prasangka. Jika hal tersebut tidak sampai pada singkat keyakinan yang kokoh, maka tidak dinamakan aqidah. Dinamakan aqidah, karena orang itu mengikat hatinya diatas hal tersebut.

2. Syari’ah

Syari’ah dalam Al Qur’an dan dalam bahasa arab berarti jalan (Thoriq-sabil-syar;i), cara (manhaj) dan yang semakna dengannya. Dengan demikian Syari’ah ”jalan dan cara” islam menuju Allah terdiri dari tiga jalur, yaitu jalur ibadah (’ibadat), etika (akhlaqiyyat), dan hukum muammalah (ahkam al-mu’ammalat).[7]

*Disusun Oleh: Misbahus Surur (Mahasiswa STAI Ma’had Aly Al-Hikam Malang).


****


[1] Syansul Ma’arif. 2005. Pendidikan Pluralisme di Indonesia. Logung Pustaka: Jogjakarta.Hlm. 12

[2] Muhammad Imarah.1999. Islam dan Pluralitas. Gema Insani Press: Jakarata.hlm.9

[3] Tengku Muhammad Hasbi ash-Ssiddiqy. 2001. Al-Islam.Pustaka Rizqy putra: Semarang. Hlm.17

[4] Lihat Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah oleh al-Lalika-i. hlm.. 1586.

[5] Tengku Muhammad Hasbi ash-Ssiddiqy. 2001. Al-Islam.Pustaka Rizqy putra: Semarang. Hlm.19

[6] Lihat kamus bahasa: Lisaanul ‘Arab, al-Qaamuusul Muhiith dan al-Mu’jamul Wasiith: bab: ”Aqada”.

[7] Muhammad said al-Asmawi.Problematika dan penerapan Syariat Islam dalam Undang-undang. 2005. Gaung Persada press: Cipayung Ciputat. Hlm. 11

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: