SILOGISME

I. PENDAHULUAN

imagessilogisDalam logika dipelajari aturan yang harus diperhatikan untuk dapat berfikir dengan tepat, teliti, dan teratur agar mencapai kebenaran. Logika melatih kita untuk menganalisis suatu jalan pikiran, menguji kesimpulan-kesimpulan yang ditarik dan kepastian yang dapat dicapai sehingga kita dapat membedakan pemikiran yang tepat dan benar dari yang kacau serta salah.

Oleh karena itu saat ini bangsa kita sedang dilanda krisis yang multikompleks, dimana perubahan tatanan kehidupan dan struktur masyarakat berlangsung sangat cepat maka sangatlah dibutuhkan orang-orang yang cakap berfikir, pandai menalar secara objektif, rasional dan kritis, yang mampu membedakan yang benar dan yang salah, dan yang mendasarkan tindakan-tindakan atas alasan-alasan yang tepat, bukan atas dasar emosi atau prasangka. Salah satu jalan kebenaran bernalar adalah dengan silogisme yang penulis paparkan pada makalah ini.

II. PEMBAHASAN

A. Silogisme

Silogisme adalah proses logis yang terdiri dari tiga bagian. Dua bagian pertama merupakan premis-premis atau pangkal tolak penalaran silogistik. Sedangkan bagian ketiga merupakan perumusan hubungan yang terdapat antara kedua bagian pertama melalui pertolongan term penengah (M). bagian ketiga ini disebut juga kesimpulan yang berupa pengetahuan baru (konsekuens). Proses menarik suatu kesimpulan dari premis-premis tersebut disebut penyimpulan.[1]

Suatu premis adalah suatu pernyataan yang dirumuskan sedemikian rupa sehingga pernyataan tadi menegaskan atau menolak bahwa sesuatu itu benar atau tidak benar. Suatu premis dapat mengatakan suatu fakta, suatu generalisasi, atau sekedar suatu asumsi atau sesuatu yang spesifik.

Pada pokoknya silogisme mempunyai dua bentuk asli, yaitu: silogisme kategoris dan silogisme hipotetis.[2]

a) Silogisme Kategoris

Silogisme Kategoris adalah struktur suatu deduksi berupa berupa suatu proses logis yang terdiri dari tiga bagian yang masing-masing bagiannya berupa pernyataan kategoris (pernyataan tanpa syarat.[3]

Sebagai suatu bentuk logis yang sudah baku, silogisme kategoris bermakna sekali dalam percakapan sehari-hari, diskusi,buku dan pidat,jalan pikiran kita jarang dirumuskan dalam bentuk silogisme. Tetapi begitu masalah mengapa dipersoalkan, maka orang akan mencari alasan-alasannya. Disinilah bentuk silogisme kategoris dapat membantu menunjukkan jalan atau tahap-tahap penalarannya. Misalnya, apabila seseorang ditanya,”mengapa korupsi itu haram?” maka akan dicari alasannya, dan kemudian berkata” karena korupsi adalah mencuri.” Jika kemudian diberi bentuk logis, maka dapat diperoleh silogisme sebagai berikut:

Mencuri itu haram.

Korupsi adalah mencuri.

Maka korupsi adalah haram.

b) Bentuk Silogisme kategoris

Dengan memperhatikan kedudukan term pembanding (M) dalam premis pertama maupun dalam premis kedua, silogisme kategoris dapat dibedakan antara empat bentuk atau empat pola, yakni sebagai berikut:

1) Silogisme Sub-Pre, suatu bentul silogisme yang term pembandingnya dalam premis pertama sebagai subjek dan dalam premis kedua sebagai predikat.

Polanya: M P

S M

S P

Contoh:

Semua manusia akan mati.

Socrates adalah manusia.

Jadi, Socrates akan mati.

2) Silogisme Bis-Pre, suatu bentuk silogisme yang term pembandingnya menjadi predikat dalam kedua premis.

Polanya: P M

S M

S P

Contoh:

Semua orang yang berjasa terhadap negara adalah pahlawan.

Sukarno adalah pahlawan.

Jadi, Sukarno adalah orang yang berjasa terhadap negara.

3) Silogisme Bis-Sub, suatu bentuk silogisme yang term pembandingnya menjadi subjek dalam kedua premis.

Polanya: M P

M S

S P

Contoh:

Manusia adalah berbudaya.

Manusia itu juga berakal budi.

Jadi, semua yang berakal budi adalah berbudaya.

4) Silogisme Pre-Sub, suatu bentuk silogisme yang term pembandingnya dalam premis pertama sebagai predikat dan dalam premis kedua sebagai subjek.

Polanya: P M

M S

S P

Contoh:

Semua influenza adalah penyakit.

Semua penyakit adalah menggannggu kesehatan.

Jadi, sebagian yang mengganggu kesehatan adalah influenza.

c) Hukum-hukum silogisme kategoris

Dalam menyusun suatu silogisme haruslah perlu diingat aturan-aturan tentang isi dan luas subjek dan predikat agar jalan pikiran itu sah.[4]

1. Term S,P dan M dalam satu pemikiran harus tetap sama artinya. Dalam silogisme S dan P dipersatukan atas dasar pembanding masing-masing dengan M, jikalau M itu mayor dan minor tidak tepat sama artinya maka tidak dapat ditarik kesimpulan.

Yang bersinar di langit itu bulan.

Nah, bulan itu tiga puluh hari.

Jadi, tiga puluh hari bersinar di langit.

2. Kalau S dan atau P dalam premis particular, maka dalam kesimpulan tidak boleh universal. Sebabnya ialah kita tidak boleh menarik kesimpulan mengenahi semua jika premis hanya memberi katerangan beberapa.

Ø Semua lingkaran itu bulat.

Nah, semua lingkaran itu gambar.

Jadi semua gambar itu bulat.

Ø Semua ahli ekonomi harus pandai memegang buku.

Nah, tuan A itu bukan ahli ekonomi.

Jadi, ia tidak perlu pandai memegang buku.

3. Term M sekurang-kurangnya satu kali universal

Anjing itu binatang.

Kucing itu binatang.

jadi Kucing itu Anjing.

4. Kesimpulan harus sesuai dengan premis yang paling lemah. Jika kalimat universal dibandingkan dengan kalimat particular, maka yang particular disebut yang lemah. Begitupula kalimat negative itu lemah dibandingkan dengan kalimat afirmatif.

Cerita yang cabul tidak baik untuk mendidik anak.

Nah, banyak cerita-cerita Panji yang cabul.

Jadi, banyak cerita-cerita dari Panji tidak baik untuk mendidik anak.

d) Hukum dasar penyimpulan silogisme kategoris

Perbandingan dua proposisi dalam bentuk silogisme walaupun ada term sebagai pembanding belum tentu dapat diambil kesimpulan secara tepat dan pasti. Untuk menentukan ketepatan dan kepastian kesimpulan yang dihasilkannya, harus mengikuti aturan-aturan tertentu yang langsung berbentuk rumusan silogisme berkesimpulan tepat dan pasti. Aturan-aturan itu disebut hokum dasar penyimpulan yang muncul dari hakikat silogisme itu sendiri. Aturan itu adalah:[5]

1. Dua hal yang sama, apabila yang satu diketahui sama dengan hal ketiga, yang lain pun pasti sama.

Contoh: semua manusia berakal budi. Semua yang berakal budi berbudaya. Jadi, semua manusia berbudaya.

2. Dua hal yang sama, apabila sebagian yang satu termasuk dalam hal ketiga, sebagian yang lain pun termasuk didalamnya.

Contoh: semua rakyat Indonesia adalah warga Negara Indonesia. Sebagian warga Negara Indonesia adalah keturunan Cina. Jadi, sebagian rakyat Indonesia keturunan Cina.

3. Antara dua hal, apabila yang satu sama dan yang lain berbeda dengan hal ketiga, dua hal itu berbeda.

Contoh: semua yang berakal budi adalah manusia. Semua manusia bukan kera. Jadi, semua yang berakal budi bukan kera.

4. Apabila sesuatu hal diakui sifat yang sama dengan keseluruhan maka diakui pula sebagian sifat oleh bagian-bagian dalam keseluruhan itu.

Contoh: semua warga Muhamadiyah adalah rakyat Indonesia. Semua rakyat Indonesia adalah berpancasila. Jadi semua warga Muhamadiyah berpancasila.

5. Apabila sesuatu hal diakui sebagai sifat yang sama dengan bagian dari suatu keseluruhan maka diakui pula sebagai bagian dari keseluruhan itu.

Contoh: sebagian makhluk adalah manusia. Semua manusia adalah berbudaya. Sebagian makhluk adalah berbudaya.

6. Apabila sesuatu hal diakui sebagai sifat yang meliputi keseluruhan maka meliputi pula bagian-bagian dalam keseluruhan itu.

Contoh: semua manusia adalah makhluk. Semua makhluk ciptaan Tuhan. Jadi, semua manusia adalah ciptaan Tuhan.

7. Apabila sesuatu hal tidak diakui oleh keseluruhan maka tidak diakui pula oleh bagian-bagian dalam keseluruhan.

Contoh: semua warga Leteng Agung adalah rakyat Indonesia. Semua rakyat Indonesia tidak beraliran komunis. Jadi, semua warga Leteng Agung tidak beraliran komunis. [6]

e) Silogisme hipotetis

Silogisme Hipotetis, yakni premisnya berupa penyataan bersyarat: P diakui atau dipungkiri tentang S tidak secara mutlak, melainkan bergantung pada syarat

Ada 4 macam tips silogisme hipotetis,yaitu:[7]

1) Silogisme hipotetis yang premis minornya mengakui bagian antecedent, seperti:

Jika hujan, saya naik becak

Sekarang hujan

Jadi saya naik becak

2) Silogisme hipotetis yang premis minornya mengakui bagian konsekuennya: seperti:

Bila hujan, bumi akan basah

Sekarang bumi telah basah

Jadi hujan telah turun

3) Silogisme hipotetis yang premis minornya mengingkari antecedent, seperti:

Jika politik pemerintah dilaksanakan dengan paksa, maka kegelisahan akan timbul

Politik pemerintah tidak dilaksanakan dengan paksa

Jadi kegelisahan tidak akan timbul

4) Silogisme hipotetis yang premis minornya mengingkari bagian konsekuennya, seperti:

Bila mahasiswa turun ke jalanan, pihak penguasa akan gelisah

Pihak penguasa tidak gelisah

Jadi mahasiswa tidak ke jalanan

f) Hukum-hukum silogisme Hipotetis

Bila antecedent kita lambangkan A dan kosekuen kita lambangkan B, jadwal hokum silogisme hipotetik adalah:[8]

1) Bila A terlaksana maka B terlaksana, seperti:

Bila terjadi peperangan harga harga bahan makanan membubung tinggi.

Nah, peperangan terjadi.

Jadi harga bahan makanan membubung tinggi.

2) Bila A tidak terlaksana maka B tidak terlaksana (tidak sah= salah),seperti:

Bila terjadi peperangan harga bahan makanan membubung tinggi.

Nah, peperangan tidak terjadi.

Jadi, harga bahan makanan tidak membubung tinggi. (tidak sah= salah).

3) Bila B terlaksana, maka A terlaksana. (tidak sah= salah), seperti:

Bila terjadi peperangan harga bahan makanan membubung tinggi.

Nah, sekarang harga makanan membubung tinggi.

Jadi peperangan terjadi. (tidak sah= salah)[9]

4) Bila B terlaksana maka A terlaksana, seperti:

Bila peperangan terjadi harga bahan makanan membubung tinggi.

Nah, harga makanan tidak membubung tinggi.

Jadi peperangan tidak terjadi.

III. KESIMPULAN

Penerapan logika luas sekali, bukan hanya di bidang ilmu pengetahuan saja, tetapi diseluruh bidang kehidupan. Sebab sebagai makhluk yang berakal, kita harus lebih banyak mengamalkan akal sehat disegala bidang kehidupan, serta mendasarkan tindakan-tindakan kita atas pertimbangan yang masuk akal. Semoga kita mendapatkan ilmu yang bermanfaat.

*Penulis: Misbahus Surur (Mahasiswa STAI Ma’had Aly Al-Hikam Malang).

Daftar Pustaka

Budiman, Ajang. 2003. Logika Praktis. Malang: Banyu Media dan UMM Press.

Mundiri. 1994. Logika. Jakarta: PT Grafindo Persada.

Poespoprodjo.1999.Logika Ilmu Menalar. Bandung: Pustaka Grafika.

Poespoprodjo. 1989. Logika Ilmu Menalar. Bandung: Remadja Karya Offset.

Surajiyo. 2006. Dasar dasar Logika. Jakarta: Bumi Aksara.


[1] Poespoprodjo. 1989. Logika Ilmu Menalar. Bandung: Remadja Karya Offset. Hlm. 154

[2] Poespoprodjo.1999.Logika Ilmu Menalar. Bandung: Pustaka Grafika. Hlm.150

[3] Surajiyo. 2006. Dasar dasar Logika. Jakarta: Bumi Aksara. Hlm. 67 lihat juga Ajang Budiman. Logika praktis.

[4] Poespoprodjo.1999.Logika Ilmu Menalar. Bandung: Pustaka Grafika. Hlm.154

[5] Surajiyo. 2006. Dasar dasar Logika. Jakarta: Bumi Aksara. Hlm. 71

[6] Surajiyo. 2006. Dasar dasar Logika. Jakarta: Bumi Aksara. Hlm. 72

[7] Mundiri. 2003. Logika. Jakarta: PT Raja Grafido Persada. Hlm. 130

[8] Ibid. hlm. 130

[9] Mundiri. 2003. Logika. Jakarta: PT Raja Grafido Persada. Hlm. 132

5 Komentar

  1. Februari 4, 2009 at 2:50 pm

    sebuah artikel yang bagus bagi kami para pelajar indonesia.
    terima kasih.

    siswa SMA Negeri 6 Bogor.

  2. arta said,

    Agustus 5, 2010 at 3:38 pm

    om..aku minta copy yah..buat tugas aku..thx..artikel yang sangat bermanfaat

  3. Desember 18, 2010 at 8:11 am

    [...] Dalam menyusun suatu silogisme haruslah perlu diingat aturan-aturan tentang isi dan luas subjek dan predikat agar jalan pikiran itu sah.[4] [...]

  4. Pak Bay said,

    Februari 18, 2012 at 2:39 am

    thanks bro…..
    membantu banget..

  5. tajul said,

    Juli 14, 2013 at 11:45 pm

    pa dalam bentuk-bentuk silogisme kategoris, terdapat contoh:
    PM
    SM
    SP
    nah yang ingin saya tanyakan S itu apa kepanjangannya, P itu apa kepanjangannya, M itu apa apa kepanjangannya?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: