METODE HUKUM ISLAM

PENDAHULUAN

Di dalam kehidupan kita sehari-hari tidak lepas dari hukum syariat Allah SWT baik itu hubungan kita kepada-Nya (ubudiyyah) maupun hubungan kita kepada sesama manusia (amaliyyah). Metode hukum islam bersumberkan dari Al-Qur’an dan Al-Hadits kemudian para sahabat berijtihad setelah meninggalnya Rasulullah SAW, para tabi’in dan sesudahnya beristimbat dan menghasilkan perbedaan hasil ijtihad karena di sebabkan oleh pemahaman akan maksud syari’atdan tingkat keilmuan serta keadaan pada zamannya.

Dengan tulisan ringkas ini, kami memaparkan sekelumit dari hukum islam tersebut dan yang berhubungan syari’at islam. Dan semoga bermanfaat dan diberkahi oleh Allah SWT.

A.PENGERTIAN HUKUM

Hukum “al-hukmu”menurut bahas alarangan, istilah adalah menetapkan suatu hal atau perkara terhadap suatu hal atau perkara[1].

As Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki mengemukakan definisi hukum adalah[2] :

خطاب الله تعالى المتعلق بفعل المكلف و يتعلق بالحكم سبعة أشياء : الواجب و المندوب

و المباح و المكروه و الحرام و الصحيح والفاسد

Perkataan Allah SWT yang berkaitan dengan perbuatan Mukallaf (aqil, baliq) dan berkaitan dengan hukum tujuh : wajib, sunnah, mubah, makruh, haram, sah dan fasid

Menurut Imam Syafi’i susunan kaidah baik buruk itu ada lima yaitu yang terkenal dengan istilah “ al-khamsah “ (lima penggolongan hukum). Seluruh perbuatan manusia dapat dimasukkan dalam salah satu golongan hukum yang lima tersebut. Hukum itu adalah: Fardhu (wajib), sunnah, mubah (ja’iz), makruh (tercelah), haram.

B.SUMBER HUKUM ISLAM

Hukum islam tidak terlepas dari Al-Qur’an dan Al-Hadits, manakala keduannya menjadi dasar hukum dalam syri’at islam. Dari keduannyalah ditetapkan hukum-hukum islam yang berlaku sejak zaman Nabi saw sampai kepada kita sekarang

Pengertian sumber hukum adalah: Segala apa saja yang melahirkan atau menimbulkan aturan-aturan yang mempunyai kekuatan, yang bersifata mengikat, yaitu peraturan yang apabila dilanggar akan menimbulkan sangsi yang tegas dan nyata. Sumber hukum islam adalah segala sesuatu yang dijadikan pedoman atau yang menjadi sumber syari’at islam terutama Al-Qur’an dan hadits. Di sampin itu terdapat beberapa bidang kajian yang erat berkaitan dengan sumber hukum islam, yaitu : Ijma’, ijtihad, istishab, istislah, maslah mursalah, qiyas, ra’yu dan ‘urf.[3]

Al Qur’an[4]

Apabila dikaji lebih mendalam hukum-hukum yang terdapat di dalam Al-Qur’an terdiri dari:

1. Hukum I’tiqadiyah,   2. Hukum-hukum Amaliyah,   3. Hukum-hukum Khuluqiyah

Khusus di bidang hukum syari’at terdapat dua bagian pokok yaitu :

1. Hukum Ibadah,         2. Hukum-hukum Mu’amalah

Menurut Amir Syarifuddin[5] hukum-hukum mu’amalah ini dirinci menjadi beberapa bidang hukum yaitu : Hukum mu’amalah, hukum perkawinan, hukum waris, hukum jinayah (pidanah), hukum murafaat (acara), hukum dusturiyah (tata negara), hukum dauliyah (antara bangsa).

.  Al Hadits

Hadits menegaskan hukum-hukum yang terebut dalam Al Qur’an, memberikan perincian tentang hukum didalam Al Qur’an hanya dibahas secara global, menetapkan suatu hukum yang belum diatur di dalam Al Qur’an secara jelas.

Ijtihad

Ijtihad adalah sebuah usaha untuk menetapkan hukum Islam berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis. Ijtihad dilakukan setelah Nabi Muhammad telah wafat sehingga tidak bisa langsung menanyakan pada beliau tentang suatu hukum namun hal-hal ibadah tidak bisa diijtihadkan. Beberapa upaya ijtihad antara lain :

  • Ijma, kesepakatan para ulama
  • Qiyas, diumpamakan dengan suatu hal yang mirip dan sudah jelas hukumnya
  • Maslaha Mursalah, untuk kemaslahatan umat
  • ‘Urf, kebiasaan
  • Pengertian Ijtihad

Ijtihad menurut bahasa berasal dari kata ; جـهــد – يـجـهــد – جــهــدا yang berarti ; berusaha dengan sungguh-sungguh. Dan kata الاجتهاد tidak dipakai  melainkan  kepada sesuatu yang mengandun arti كـلـفــة و مـشـقــة (kesukaran, kesulitan ),      

Dari pengertian bahasa ini , para ulama ‘ merumuskan pengertian menurut istilah dengan berbeda–beda .Bagi ulama’ yang mendekatinya melalui pemikiran holistick dan integral, ijtihad diartikan dengan”segala upaya yang dicurahkan mujtahid dalam berbagai bidang ilmu,seperti bidang fiqhi,teologi,filsafat dan tasawuf ”. Sementara ulama, usul fiqhi melihat bahwa ijtihad sebagai aktivitas yang berkaitan dengan masalah fiqhi . Oleh karena itu mereka berpendapat bahwah upaya memahami nash tentang masalah – masalah teologi , filsafat dan tasawuf tidak dikategorikan sebagai aktivitas ijtihad.

Adapun definisi–definisi yang diketengahkan oleh para ulama’usul fiqhi antara lain:

1)            Definisi yang ditengahkan oleh al- Ghazali :

بذل المجتهد وسعه في طلب العلم بالاحكا م الشرعية

”Upaya maksimal seorang mujtahid dalam memperoleh pengetahuan tentang hukum-hukum syar’i.”

Definisi  yang diketengahkan oleh al- Ghazali di atas lebih bersifat umum , dan ditekankan pada adanya upaya yang maksimal bagi seorang mujtahid untuk mengetahui hukum-hukum syar’i.       

2)            Definisi yang diketengahkan oleh al-Amidi :                              

استفراغ الوسع في طلب الظن بشيء من الاحكام الشرعية عل وجه يحس من النفس العجز عن المزيد فيه

Mencurahkan segala kemampuan dalam mencari hukum syara’ yang bersifat zhanni, sehingga dirinya tidak mampu lagi mengupayakan yang lebih dari itu” .

Definisi yang diketengakan oleh al- Amidi mengindikasikan bahwa objek ijtihad adalah masalah-masalah yang bersifat zhanni, sehingga hasilnya tidak mutlak benar.

3)             Definisi yang ditengahkan oleh Muhammad Abu Zahrah :

بذل الفقيه وسعه في استنباط الاحكا م العملية من ادلتها التفصيلية

”Usaha seorang faqih yang menggunakan seluruh kemampunnya untuk menggali hukum yang bersifat amaliah ( amaliah ) dari dalil-dalil yang terperinci “.

Definisi yang diketengahkan oleh Abu Zahrah ini menekankan adanya subyek ijtihad adalah seorang faqih dan obyeknya adalah hukum-hukum yang bersifat amaliyah / praktis.

Dari beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ulama’ usul fiqhi di atas dapat dipahami bahwa ijtihad adalah upaya optimal yang dilakukan oleh mujtahid / faqih untuk menemukan suatu hukum yang bersifat amaliyah / praktis dan nilai kebenarannya adalah zhanni.

  • Macam-Macam Ijtihad

Dari segi kajiannya , menurut al- Syatibi dibagi menjadi dua :

a) Ijtihad Istinbathi

Ijtihad istimbati adalah ijtihad yang dilakukan dengan mendarkan pada nash-nadh syari’ah dalam meneliti dan menyimpulkan ide hukum yang terkandung di dalamnya.Dalam ijtihad istimbati ini seorang mujtahid diharuskan memenuhi pensyaratan mujtahid-seperti yang ditengahkan nanti . Hal ini disebabkan mujtahid dalam ijtihad istimbati berhadan langsung dengan nash-nash syari,aht. Karena sulitnya persyaratan sebagai mujtahid sempurna , maka menurut al-Syatibi ,mujtahid dalam ijtihad istimbati ini kemungkinan akan putus , khususnya dizaman modern yang spesialisasi ilmu semakin diperketat dan dipersempit, sehingga orang lebih cenderung menguasai satu bisang ilmu saja. Hal ini berbeda dengan ulama’ terdahulu yang pada umumnya menguasai berbagai bidang ilmu secara integral.

b)      Ijtihad Tatbiqi

Ijtihad tatbiqi adalah ijtihad yang dilakukan dengan mendasarkan pada suatu permasalahan yang terjadi di lapangan . dalam ini seorang mujtahid langsung berhadapan dengan objek hukum di mana ide atau subtansi hukum dari produk ijtihad istimbati akan diterapkan . Bagi seorang mujtahid dalam ijtihad tatbiqi dtuntut untuk memahami maqashid al syari’ah secara mendalam. Hal ini dimaksudkan agar dia dapat menentukan apakah ide hukum yang telah dihasilkan tersebut jika diterapkan pada kasus yang sedang dihadapkan bisa mencapai maqashid syari’ah atau tidak . Menurut al- Syatibi , bentuk ijtihad inilah yang tidak akan terputus dari waktu-kewaktu sampai kapan pun,sebab ini menyangkut penerapan hukum dari masalah-masalah kehidupan sepanjang masa.

Adapun ijtihad dilihad dari segi relevansinya dengan masalah-masalah kontemporer ,menurut Yusuf al- Qardawi dibagi menjadi dua:

a) Ijtihad Intiqa’i

Ijtihad intiqa’i ini dilakukan oleh seorang atau sekelompok orang dengan cara memilih pendapat para ahli fiqhi terdahulu dalam suatu masalah , sebagai mana yang terdapat dalam kitab-kitab fiqhi, dengan menyeleksi pendapat yang lebih kuat yang lebih kuat dalilnya dan lebih relevan untuk diterapkan pada kondisi sekarang. Ijtihad intiqa’i yang rumusannya secara teoritis dikemukakan oleh Yusuf al-Qardawi ini , secara praktis sebenarnya sudah dilakukan oleh para ulama’ fiqhi klasik, seperti Ibnu Qudamah (tokoh fiqhi hambali) dalam bukunya       al-Mughnida dan an-Nawawi (tokoh fiqhi al-Syafi’i dalam bukunya al-Majmu, Syarah al-Muhadzdzab).

b) Ijtihad Insya’i

Ijtihad insya’i yang dimaksud adalah pengambilan hukum baru yang belum pernah dikemukakan oleh parah ahli fiqhi sebelumnya,baik mengenai masalah yang baru maupun yang lama. Jika masalah yang dikaji itu baru yang sama sekali belum pernah ditemukan kasus dan hukumnya ,maka mujtahid munsyi’ berupaya untuk menentukan hukumnya dengan memahami dan meneliti secara menyeluruh kasus yang dihadapi, sehingga dengan tepat ia dapat menentukan hukumnya sesuai demgan tujuan syari’at yang ada . Jika masalah yang dikaji itu sudah pernah diketengahkan kasus dan hukumnya oleh para ulama’sebelumnya,maka mujtahid munsyi’ dapat melakukan ijtihad dengan memunculkan pendapat yang baru diluar pendapat yang ada.

  • Tingkatan Mujtahid

Mujtahid dapat dikelompokkan kedalam 4 klasifikasi :

  1. Mujtahid yang berkemampuan berijtihad seluruh masalah hukum islam dan hasilnya diikuti oleh orang-orang yang tidak sanggup berijtihad. Mereka berusaha sendiri, tanpa memungut pendapat orang lain. Dinamakan dengan mujtahid fisysyar’i .Misalnya : Imam Malik, Hanafi, Hambali, Syafi’i.
  2. Mujtahid fil madzhab adalah mujtahid yang di dalam berijtihad mengikuti pendapat salah satu madzhab dengan beberapa perbedaan. Misalnya : Abu Yusuf yang mengikuti pendapat madzhab Hanafi.
  3. Mujtahid fil masail atau mujtahid yang hanya membidangi dalam masalah-masalah tertentu. Ciri-ciri mujtahid ini yaitu :
  • Dalam berijtihad mengikuti  pendapat Imam madzhab tertentu
  • Lapangan ijtihadnya terbatas pada soal-soal tertentu dan menyangkut hal-hal yang cabang saja. Contohnya :Al-Ghzali
  1. Mujtahid  mengikatkan diri atau muqayyad, ciri-cirinya :
  • Mengikuti pendapat-pendapat ulama’ salaf
  • Mengetahui sumber-sumber hukum dan masalahnya
  • Mampuh memilih pendapat yang dianggap lebih baik dan benar .contonya    An-Nawawi
  • Syarat-Syarat Mujtahid

Para ulama’ usul fiqhi telah menetapkan syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang mujtahid sebelum melakukan ijtihad. Sya’ban Muhammad Ismail (ahli usul fiqhi dari mesir )mengetengahkan syarat-syarat tersebut sebagai berikut :

a) Mengetahui Bahasa Arab

Mengetahui bahasa arab dengan baik sangat diperlukan bagi seorang mujtahid sebab.Qur’an diturunkan dengan berbahasa arab ,dan al-Sunnah juga dipaparkan dalam bahsa arab.Menurut al-Syaukani (ahli usul fiqhi dari Yaman) tuntunan bagi seorang mujtahid dalam menguasai bahasa arab seperti nahwu,sharaf,balagah dan lain sebagainya, bukan berarti harus menghafal sepenuhnya , akan tetapi ia disyaratkan mempunyai kemampuan untuk merujuk pengertian dan seluk beluk bahasa arab tersebut pada kitab–kitab standar yang ada.

b) Mempunyai Pengetahuan yang Mendalam tentang al-Quran .

Mengetahui al-Qur’an dengan segala ilmu yang terkait dengannya, seperti nasikh,mansukh,am,khas,mujmal ,mufassar ,mutlaq, muqayyad, mafhum dan asbab an-nuzul, sangat diperlukan bagi seorang mujtahid. Mengenai ayat-ayat yang harus dihafaloleh seorang mujtahid, para ulama’ berbeda pendapat dalam menentukannya . Imam as-Asyafi’i mengharuskan ,menghafal seluruh ayat al-Qur’an ,sedangkan al-Ghazali mensyaratkan seorang mujtahid harus menguasai ayat-ayat hukum yang jumlahnya kurang lebih 500 ayat .Pernyataan yang dikemukakan al-Ghazali ini berawal dari pendapatnya bahwa ayat-ayat yang secara terperinci berbicara tentang hukum yang berjumlah 500 ayat. Namun perlu diketahui bahwa bukan berarti ayat-ayat yang lain tidak mengandung hukum yang dapat diistimbatkan , karena setiap ulama’ yang memahami al-Qur’an secara saksama akan bisa beristimbath hukum dengan ayat yang mana saja . Dengan demikian ,jumlah ayat hukum yang yang diketengahkan al-Ghazali tersebut hanya perkiraan dan hanya melihat pada kandungan ayat secara rinci saja.

c) Memiliki Pengetahuan yang Memadai tentang al-Sunnah

Pengetahuan tentang al-sunnah dan hal-hal yang terkait dengannya harus dimiliki oleh seorang mujtahid . sebab al-sunnah merupakan sumber utama hukum syara’ disamping al-Qur’an yang segaligus berfungsi sebagai penjelasnya . Pengetahuan yang terpenting mengenai al-Sunnah antara lain dirayah dan riwayah , asbab al-wurud dan al-jarh wa al- ta’dil.Dalam kaitan ini pengetahuan tentang riwayat hadits bagi seorang mujtahid adalah dititikberatkan  pada pemahaman hadits-hadits yang mengandung hukum.

d) Mengetahui Letak Ijma’dan Khilaf

Pengetahuan tentang hal-hal yang telah disepakati (ijma) dan hal-hal yang masih diperselisihkan (khilaf) mutlak diperlukan bagi seorang mujtahid . Hal ini dimaksudkan agar seorang mujtahid tidak menetapkan hukum yang bertentangan denga ijma’ para ulama’ sebelumnya, baik shabat,tabi’in, maupun generasi setelah itu . Selain mengetahui masalah-masalah yang telah disepakati, seorang mujtahid juga harus mengetahui masalah-masalah yang masih diperselisihkan di kalangan fuqha’.

e) Mengetahui Maqashid al-Syari’ah

Pengetahuan tentang Maqashid al- Syari’ah (tujuan syari’at agama islam) sangat diperlukan bagi seorang mujtahid .Hal ini disebabkan bahwa senua keputusan hukum harus selaras dengan tujuan syari’ah islam yang secara garis besar adalah untuk memberi rahmat kepada alam semesta ,khususnya untuk kemaslahatan ummat manusia.Oleh karena itu hukum ysng ditetapkan  seorang mujtahid harus mampu memelihara tiga tingkatan kemaslahatan ummat manusia., yaitu dharuriyyah (primer),hajiyyah(scunder)dan tahsiniyyah(tersier).Seperti menghilangkan kesulitan dan mencegah kesempitan,serta memilih kemudahan dan meninggalkan kesuksran.Jika kesukaran (masyaqqah) terpaksa diberlakukan dalam tuntutan syari’at islam, maka pada hakikatnya hal itu untuk menolak datangnya masyaqqah yang lebih besar.

f) Memiliki Pemahaman dan Penalaran yang Benar

Pemahaman dan penalaran yang benar merupakan modal dasar yang harus dimiliki oleh seorang mujtahid agar produk-produk ijtihadnya bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dalam kaitan ini mujtahid harus mengetahui batasan-batasan ,argumentasi, sistematika dan proses menuju konklusi hukum agar pendapatnya terhindar dari kesalahan.

g) Memiliki Pengetahuan tentang Ushul Fiqhi

Penguasaan secara mendalam tentang ushul fiqhi merupakan kewajiban bagi setiap mujtahid . Hal ini disebabkan bahwa kajian ushul fiqhi antara lain memuat bahasan mengenai metode ijtihad yang harus dikuasai oleh siapa saja yang ingin beristimbat hukum.Fakhruddin al-Razi (ahli usul fiqhi bermazhab al-Syafi’i) menegaskan bahwa ilmu yang paling penting untuk dikuasai seorang mujtahid adalah ilmu ushul fighi. Dan al-Ghazali juga mengatakan bahwa yang paling penting dari ilmu ijtihad adalah ushul fiqhi.

h) Mengetahui tentang Manusia dan Kehidupan Sekitarnya

Seorang mujtahid diharuskan untuk mengetahui tentang kehidupan manusia dan lingkungan sekitarnya.Oleh kerena itu seorang mujtahid sebelum beristimbath harus mengetahui kondisi obyek hukum dari segi kejiwaan,kebudayaan,kemasyarakatan, perekonomian ,politik serta hal-hal lain yang terkait dengan kehidupan manusia saat ini.

i) Niat dan I’tikad yang benar

Seorang mujtahid harus berniat yang ikhlas semata-mata mencari ridho Allah. Hal ini sangat diperlukan, sebab jika seorang mujtahid mempunyai niat yang tidak ikhlas sekalipun daya pikrannya tinngi, maka peluang untuk membelokkan jalan pikirannya sangat besar, sehingga berakibat pada kesalahan produk ijtihadnya.

Pensyaratan diatas merupakan pensyaratan integritas kepribadian dan intelektualitas yang harus dipenuhi oleh seorang mujtahid.Disamping pensyaratan-pensyaratan tersebut ,para ulama’ ushul fiqhi juga memberi pensyaratan lain, seperti dewasa, beragama islam dan sehat pikirannya .Pensyaratan-pensyaratan terakhir ini disebut dengan al-syuruth al-ammah, atau syarat-syarat umum.

  • Perbedaan Hasil Ijtihad[6]

Para fuqaha di dalam menghasilkan pendapat tidak selalu sama dalam memahami metode dan sistem pendekatannya untuk memahami kehendak Tuhan. Keadaan ini menimbulkan adanya perbedaan di antara para ahli fikih atau Mazhab, walaupun demikian sumbernya sama.

Literatul tradisional mengungkapkan beberapa sebab perbedaan tersebut sebagai berikut :

.  Perbedaan di dalam memahami Al-Qur’an karena adanya di dalam teks Al-Qur’an lafadz homonim seperti lafadz quru’. والمطلقات يتربصن بأنفسهن ثلاثة قروء yang mempunyai arti haid dan suci dari haid. Masalah kebahasaan diantara para mujtahid memiliki kaidah kebahasaan yang kadang berbeda, karena perbedaan asal guru-guru mereka dari kabilah-kabilah di arab yang juga kadang mempuyai perbedaan dalam dialek

.  Perbedaan di dalam sunnah nabi, tentang pensyaratan penerimaan hadits dan tentang memahami lafaz-lafaz yang masih memerlukan interprestasi  serta tentang penetapan kriteria hadits yang dapat menginterpretir Al-Qur’an.

.  Perbedaan di dalam berijtihad dan mempergunakan pendapat disebabkan oleh kualitas kemampuan yang berbeda


[1] Drs. Sudarsono, S.H., M.Si. pokok-pokok hukum islam MKDU. Hal :77

[2] Syarah Mandumatul Waraqat fii Usulil Fiqhi

[3] Drs. Sudarsono, S.H., M.Si. pokok-pokok hukum islam MKDU. Hal : 1

[4] Drs. Sudarsono, S.H., M.Si. pokok-pokok hukum islam MKDU. Hal : 7-9

[5] Ibid op. Cet. H : 3

[6] Drs. Sudarsono, S.H., M.Si. pokok-pokok hukum islam MKDU. Hal :75-76

1 Komentar

  1. abiulil said,

    Oktober 10, 2011 at 10:39 pm

    MAKASIH INI BAGUS BUAT TUGAS SAYA,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: