Lafadz Dipandang Dari Ketidak-Jelasannya

  1. PENDAHULUAN

Karena membanjirnya serbuan ilmu-ilmu social barat, saat ini banyak cendikiawan muslim yang menyerukan perlunya pembaharuan pemikiran keagamaan Islam. Namun kajian lebih lanjut menunjukkan bahwa pembaharuan dimaksud adalah pembaharuan di bidang Fiqh dan Usul Fiqh. Padahal kedua ilmu ini memiliki konstuk epistemologinya sendiri yang tidak terlepas dari prinsip-prinsip ilmu dalam pandangan hidup Islam yang jelas berbeda dari Barat. Bagi yang tidak memahami hal ini jalan yang ditempuh adalan dekonstruksi epistemology ilmu Fiqh dan Usul Fiqh, tanpa memperdulikan konstruk epistemologinya. Agar lebih bijaksana, tidak terburu-buru menolak pembaharuan dan juga tidak latah meninggalkan khazanah keilmuan Islam klasik[1]

Para Ulama mendefinisikan Fiqh sebagai “pengetahuan tentanghukum syara’ praktis beserta dengan dallil-dalilnya yang terperinci berkenaan dengan perbuatan manusia”[2] definisi ini menunjukkan bahwa yang menjadi objek kajian Fiqh adalah perbuatan manusia, mengenai halal, haram,wajib, mubah, dan sebagainya. Kehadiran ilmu ini mutlak diperlikan manusia. Karena ia menjamin dan melindungi masyarakat dari keonaran dan kekacauan. Sebab manusia pada dasarnya, kata ibnu khaldun, adalah “domenieering being” yang punya ambisi dan kecenderungan menguasai dan menaklukkan orang lain serta memaksa mereka tunduk dan patuh kepadanya. Bila sifat ini tidak dikekang maka ia akan menctuskan kanflik dan peperangan[3]

Sebagai ilmu yang diderivasi dari alqran dan Sunnah, Fiqh memerlukan kerangka teoretik atau metodolgi berfikir yang disebut Usul fiqh. Usul Fiqh adalah pengetahuan tentang dalil-dalil fiqh secara umum, cara menggunakannya, serta pengetahuan oran-orang yang menggunakan dalili-dalil tersbut[4]. Ia begitu penting dalam menderivasi hukum dan karena itu fungsi dan perannya mirip logikan dan filsafat. Jika logika dapat menghindarkan seseorang dari melakukan kesalahan (fallacies) dalam berargumentsi, maka Usul Fiqh mencegah seorang faqih dari berbuat kesalahan dalam menderivasi hukum.[5] Sehingga tidak berlebihan jika para Ulama enetapkan ilmu Usul Fiqh sebagai salah satu persyaratan terpenting yang mesti dimiliki oleh seorang mujtahid[6]

Menurut analisa penulis dalam berbagai kajian-kajian ilmu Usul Fiqh, mereka (usuliyyin) libih menitik beratkan pada dua metode, yaitu kaidah-kaidah kebahasaan (lafdziyyah) dan maqoshid al-syari’ah. Metode yang pertama mereka lebih memfokuskan pada penelitiannya terhadap teks-teks suci Alquan dan Sunnah secara lansung, seperti zhahir, nash, mufassar, khafi, mujmal, musykil,dan mutasyabih. Sementara metode yang kedua  mereka titik beratkan pada penelitian yang tidak secara langsung pada teks, dengan memperhatikan tujuan yang diinginkan syari’. Pada makalah ini penulis akan mengurai metode yang pertama dalam hal ini akan lebih banyak menggambarkan  ketidak-jelasan teks-teks (al-fadz ghairu al- wadlih) berbeda  dengan teman kami[7] lebih menitik beratkan pada kajian kejelasan teks-teks (al-fadz  al- wadlih).

  1. PEMBAHASAN

Alquran diturunkan dalam keadaan berbahasa Arab sementara  makna yang  dikehendaki tuhan sangat samar, namun demikian keberdaan rasulullah menjelaskan ayat-ayat alquan yang tidak jelas yang populer disebut hadist (sabda, perbuatan, dan ketetapan Nabi), selanjutnya pada gilirannya penjelasan raulullah-pun juga tidak jelas arti yang dimaksudnya. Oleh karena itu Usulyyin merumuskan konstruk kaidah-kaidah untuk dijadikan sarana memahami kedua sumber hukum islam tersebut.  Dalam alquran dan hadist banyak sekali ketentuan hukum yang tidak jelas yang oleh mayoritas Ulama di katagorikan pada empat macam, pertama khafi, mujmal, musykil dan yang keempat adalah mutasyabih.

Sebelum kami uraikan pengertian dan objek kajiannya, terlebih dahulu perlu kami utarakan pengertian lafadz dari ketidak-jelasannya, ketidak jelasan lafadz (al-fadz ghairu al- wadlih) adalah suatu lafadz yang tidak jelas makna yang dikehendaki secara mutlak atau tidak jelas maknanya pada sebagian indikasi yang dapat memperjelas maknanya memang demikian karena lafadz tersebut tidak bentuknya memang tidak jelas dan jenis lafadz seperti ini hanya tuhan yang mengetahuinya, sepeti permulaan surat-surat dalam alquran sebagai contoh (الم, الر, كهيعص) karena memang lafadz-lafadz ini tidak jelas bagi kita, sementara ayat-ayat yang laini tidak pernah menjelaskan kandungan maknanya. Ada juga ketidak-jelasan lafadz (al-fadz ghairu al- wadlih) dapat dideteksi maknanya melalui pelacakan terhadap ayat-ayat lain atau  dari Sunnah, karena antara keduanya saling menafsirkan satu sama lain. Selain itu ketidak-jelasan lafadz (al-fadz ghairu al- wadlih) bukan faktor dari bentuk lafadz itu sendiri, bahakan perlu untuk mencocokkanya dengan beberapa madlulnya.[8] Agar lebih jelasnya masing-masing istilah di atas dapat dilihat pada uraian berikut:

  1. 1. KHAFI

Khafi adalah lafadz yang dapat menun jukkan kepada artinya secara jelas, namun ketika arti tersebut diaplikasikan kepada kasus tertentu, maka ia menjadi samar dan tidak jelas. Hal tersebut terjadi karena faktor kasus tersebut tidak sama persis dengan kasus yang dibicarakan oleh dalil yang ada. Sebagai contoh pencuri pada ayat 38 surah al-Maidah :

والسارق والسارقة فاقطعوا ايديهما والله جزاء بما كسبا نكالامن الله عزيز حكيم

Artinya: pencuri laki l-laki dan pencuri perempuan maka potonglah tangan keduanya (sebagian) sebagai pembalasan bagi apa yang telah mereka  kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah.  Dan Allah maha perkasa lagi maha bijaksana (QS.5:38)

Jika kita amati makna pencuri (والسارق) dalam ayat di atas, sangat jelas maknanya yaitu setiap orang yang mengambil harta milik orang lain secara tersembunyi dari tempat yang layak seperti umumnya orang menyimpan harta antara lain lemari, kotak, penyimpan harta. Namun jika ayat di atas dibenturkan dengan kasus  yang lain, seperti pencopet (الطرار) yang melakukan pencurian secara terang-terangan dan pencuri kafan mayat (النباش)di kuburan yang tidak jelas pemiliknya, hal ini disebabkan mayat tidak punya hak memiliki harta benda. Oleh karena itu kedua istilah baru ini  berdampak kesamaran bagi sebagian jenis pencuri  dalam mengeneralkan penyebutan istilah pencuri. Untuk mengetahui hal ini masih membutuhkan pemikiran lebih mendalam.

Ulama telah berpandangan dalam kasus di atas bahwa pencuri  (والسارق) mencuri harta benda secara tersembunyi sementara pencopet myencuri secara teranng-terangan. Karena hal ini mereka berkonsensus bahwa pencopet dihukumi sama dengan pencuri, artinya wajib memotong tangan pencopet, bahkan ia lebih berhak untuk dipotong. Sementara untuk kasus pencuri kain kafan mayoritas  Ulama Hanafiyyah sepakat bahwa pencuri kafan tidak dikatagorikan sebagai pencuri pada umumnya karena sesuatu yang terdapat dalam kuburan tidak terhitung sebagai harta benda dan kafan tidak termasuk harta yang disenagi masyarakat pada umumnya, sehingga sipelaku tidak dikatagorikan sebagai pencuri yang dapat menyebabkan kewajiban potong tangan tetapi hanya dita’zir. Sementara Ulama lain dan Abu Yusup berpendapat sebaliknya yaitu ia terhitung sebagai pencuri pada umumnya dan wajib dipotong tangannya.

Hukum khafi yaitu wajib berupaya memperjelas makna yang dikehendaki, atrinya wajib menganalisa terhadap hal-hal yang dapat menyebabkan adanya kesamaran.

  1. 2. MUSYKIL

Musykil adalah  lafadz yang tidak jelas maknanya karena banyak makna yang dikandungnya sementara tidak ada lafadz lain yang mengindikasikan untuk dimaknai tertentu, oleh karena itu untuk mengungkap maknanya hanya dengan wujudnya indikator setelah melakukan analisis. Sebagai contoh lafadz اني dalam firman Allah seperti  فاتوا حرثكم اني شئتم  lafadz ini memiliki banyak makna seperti makna bagaimana  caranya (كيف) seprti firman Allah yang lain  اني يكون لى غلام Ia memiliki makna bagaimana caranya (كيف). ada juga makna lain  seperti makna (من اين) seperti firman Allah اني لك هذا yang berariمن اين  . Dengan demikian dari contoh di atas sangat sulit untuk mengungkap makna yang dikehendaki, setelah melalui analisis  Ulama usuliyyin lebih memperoritaskan makna bagaimana caranya (كيف), dengan kata lain cara yang disukai melakukan hubungan intim pasutri baik dilakukan dengan model duduk, berdiri, tidur terlentang, atau fagina sang istri diserang dari belakang. Ulama usuliyyin lebih memperoritaskan makna ini karena dalam analisisnya memfokuskan pada lafadz  الحرث Yaitu tempat untuk memperoleh keturunan. Sementara dubur bukan tempat untuk memperoleh keturunan.[9]

Hukum musykil yaitu wajib menganalisa sebagai upaya memperjelas makna yang dikehendaki dari lafadz musykil.

  1. 3. MUJMAL

Mujmal adalah lafadz yang tidak jelas makna yang dikehendakinya pada bentuk lafadz itu sendiri, dengan kata lain kesamaran itu hanya bisa dipahami dengan penjelasan mutakallim, sehingga tidak mungkin bisa memahaminya hanya dengan mengandalkan akal tetapi perlu juga melibatkan dalil naqli (penjelasan Allah atau rasulullah). Sebagai contoh, lafadz (حق) pada ayat 141 surat al-An’am:.

واتو حقه يوم حصاده — الاية

Artinya: “dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya” (QS. 6:141)

Lafadz حق Pada ayat di atas pengertiannya tidak jelas, sehingga perlu dalil-dalil lain untuk menperjelasnya. Penjelasan dari lafadz mujmal ini disebut dengan al-Bayan. Al-Bayan dalam istilah Usul Fiqh adalah dalil yang mengeluarkan suatu lafadz dari tidak jelas pengertiannya kepada pengertian yang jelas[10]. Selanjutnya, menurut Abu Ishaq al-syirazi (w.476 H/1083 M) ahli Usul Fiqh kalangan Syafi’iyyah, al-bayan terdiri dari:[11]

a. Al-bayan bi al-qaul, yzitu penjelasan melalui sabda rasulullah atau firman Allah swt. Contoh hadist riwayat Abu Dawud:

في خمس من الابل شاة —- الحديث (رواه ابودود)

Artinya : untuk setiap lima ekor unta (zakatnya)seekor kambing (HR.Abu Dawud).[12]

Hadist ini merupaka al-bayan dari hitungan zakat unta

  1. b. Al-bayan bi al-mafhum,yaitu penjelasan melalui mafhum, baik mafhum muhalafah maupun mafhum muafaqah contoh hadist riwayat Abu Dawud:

وفي سائمة الغمم الزكاة  (رواه ابوداود)

Artnya: dan pada kambing yang tidak dicarikan makanannya dikenakan kewajiban zakat…(HR Abu Dawud).[13]

Mafhum makhalafah dari hadist di atas adalah, bahwa kambing yang dicarikan makanannya tidak wajib dizakati. Mafhum mukhalafah tersebut merupakan al-Bayan dari hadist tentang kewajiban zakat kambing di atas.

  1. c. Al-Bayan bi al-fi’li, yaitu penjelasan melalui perbuatan. Contoh mengenai   pelaksanaan ibadah haji yang diperaktekkan Rasulullah. Dan para sahabat disuruh   meniruseperti yang beliau peraktekkan, beliau bersabda:

خذوا مناسككم— الحديث (رواه ابوداود)

Artinya :…. Hendaknya kalian menagmbil (dariku) cara-cara pelaksanaan haji kalian ….(HR.Abu Dawud).[14]

Praktek ibadah haji Rasulullah merupakan al-bayan dari perintah Allah untuk melalukan ibadah haji, seperti yang terdapat p[ada firman Allah pada surat Ali ‘Imran ayat 97 sebagai berikut:

ولله علي الناس حج البيت من استطاع اليه سبيلا — الاية

Artinya: …….. mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) setiap orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah …….. (QS. 3:97).

  1. d. Al-bayan bi al-iqrar, yaitu penjelasan melalui ketetapan/pengakuan. Seperti mengenai ketetapan/pengakuan Rasulullah saw terhadap prkatek shalat sunnah dua rakaat setelah subuh karena adanya sebab, seperti yang dilakukan Qois ibn Amr. Ketika menyaksikan perbuatan Qois ini Rasulullah mendiamkannya, padahal sebelumnya beliau melarang intuk melakukan shalat sunnah setelah subuh sampai matahari terbit. Sebagaimana sabda beliau yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra :

عن ابي هريرة رضي  الله عنه ان رسول الله صلي الله عليه وسلم نهي عن الصلاة بعد الفجر حتي تطلع الشمش — الحديث (رواه البخاري)

Artinya : dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya Rasulullah melarang shalat setelah subuh sampai terbitnya matahari. (HR.bukhari)[15].

  1. e. Al-Bayan bi al-isyarah, yaitu penjelasan melalui isyarah, contoh penunjukan Rasulullah tentang jumlah bilangan hari dalam satu bulan, Sebagaimana yang terdapat dalam hadist yamg diriwayatkan imam bukhari:

عن النبي صلي الله عليه وسلم انه قال الشهر هكذا وهكذا يعني مرة تسعة وعشرين ومرة ثلاثين

(رواه البخاري)

Artinya: Dari Nabi saw, sesungguhnya beliau bersabda “bulan itu (bintangnya)sekian dan sekian, yakni kadang-kadang 29 haridan kadang-kadang 30 hari. (HR. bukhari).[16]

Hadist ini merupakan al-bayan dari jumlah hari pada bulan-bulan qamariah.

  1. f. Al-Bayan bi al-kitabah, yaitu penjelasan melalui tulisan. Contoh mengenai kewajiban zakat yang penjelasannya didapat dari tulisan Rasulullah. Sebagaimana yang tercantum dalam hadist riwayat dari salim:

عن سالم عن ابيه قال كتب رسول الله صلي الله عليه وسلم كتاب الصدقة فلم يخرجه الي عماله حتي قبض  الحديث (رواه ابوداود) 

Artinya : “Dari Salim, dari ayahnya, dia berkata bahwa Rasulullah telah menulis tentang (kewajiaban) zakat, dan tidak mengeluarkannya pada para petugasnya sampai beliau wafat…” (HR. Abu Dawud).

Panjelsan tentang kewajiban zakat yang termuat dalam tulisan seperti yang terdapat dalam hadist riwayat dari Salim tersebut merupakan al-bayan dari perintah untuk m,enunaikan zakat.

  1. g. Al-Bayan bi al-qiyas, yaitu penjelasan melalui qiyas. Contoh mengqiaskan minuman wisky ini merupakan al-bayan dari nash yang mengharamkan khamr seperti yang terdapat pada ayat 90 surat al-ma’idah:

انما الخمر والميسر والنصاب والازلام رجس من عمل الشيطان . فاجتنبوه الاية

Artinya : sesungguhnya minuman khamr, berjudi, (berkurban untuk) berhalamengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji, termasuk perbuatan setan. Maka jahuilah perbuatan-perbuatan tersebut….”(QS.5:90)

Demikian jenis-jenis al-bayan seperti yang dikemukakan Abu Ishaq al-Syirazi. Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa al-bayan bisa diperoleh  melalui alquran, sunnah, dan ijtihad.

Selanjutnya, kalangan Hanafiyyah mengartikan mujmal sebagai lafadz yang tidak bisa diketahui maksudnya kecuali ada penjelasan dari mujmal itu sendiri.[17] Maksudnya lafadz mujmal merupakan lafadz yang tersembunyi pengertiannya,  dan penjelasan lafadznya hanya diperoleh dari syar’I, [18] oleh karena itu menurut aliran ini penjelasan lafadz mujmal bukan dengan jalan ijtihad, tetapi merupakan hasil produk syari’at sendiri.[19]

Jika dilihat dari sisi yang lain, lafadz mujmal[20] dapat berbentuk lafadz yang asing, kemudian secara langsung dijelaskan maksudnya secara husus oleh nash sendiri, seperti lafadz القارعة  dalam firman Allah :القارعة. ماالقارعة الاية Lafadz tersebut  hanya dapat dipahami maksudnya setelah ada penjelasan dari Allah, semetara maksudnya adalah hari kiamat. Selain itu lafadz mujmal bisa berupa pindahan dari makna lughawi kepada makna istilahi seperti lafadz الصلاة yaitu lafadz yang makna lughawinya dapat dipindah kepada makna istilahi, lafadz ini memiliki makna lughawi yang berarti do’a dan selanjutnya, maknanya  dipindah kepada istilahi yang berarti ucapan dan perbuatan khusus yang di awali dengan takbir dan di akhiri denga salam. Bentuk mujmal ini hanya dapat dijelaskan oleh hadist.

Hukum mujmal yaitu pada masa risalah dalam menentukan makna yang dikehendakinya dipending terlebih dahulu sampai terdapat penjelasan dari mutakallim.

  1. 4. MUTASYABIH

Mutasyabih adalah lafadz yang samar maknanya, tidak mungkin untuk dapat memahami maknanya, oleh karena itu tidak ada harapan untuk bisa memahaminya karena memang tidak ada penjelasan dalam alquran dan assunnah.[21] Model lafadz seperi ini tidak terdapat pada ayat-ayat dan hadist-hadist yang berkaitan dengan hukum. Tetapi bisa ditemui pada permulaan surat seperti الم, الر sedangkan model yang kedua berupa lafadz yang kemungkinan bisa dita’wil seperti firman Allah pada surat thaha ayat 5 sebagai berikut:

الرحمن علي العرش استوي

Artinya : (yaitu) Tuhan yang maha pemurah, yang bersemayam di atas ‘Arsy.

( QS. 20: 5).

Selanjutnya menurut Abd al-Wahhab khallaf , lafadz mutasyabih ini tidak ditemukan dalam ayat-ayat hukum.[22] Oleh karena itu secara praktis lafadz-lafadz mutasyabih ini hanya didapati pada ayat-ayat di luar hukum.

  1. PENUTUP

Setelah kita mengetahui berbagai macam lafadz, marialah kita jangan menutup diri untuk tidak lebih mendalaminya, secanggih apapun otak manusia untuk mengiterpretasi ayat –ayat alquran tanpa menoleh terhadap konsruksi Usul Fiqh yang telah ditanam oleh ulama konserfatif, ia tidak mungkin bisa mencapai kebenaran sesuai dengan yang dikehendaki syari’

Semoga makalah kecil ini dapat menggugah semangat para pembaca untuk lebih mendalami kajian usul fiqh demi masa depan islam di masa mendatang.


[1] Lihat majalah pemikiran dan peradaban Islam “ISLAMIA”  edisi thn II No 5, April – juni 2005, hal 36

[2] Muhammad ‘abid al jabiri, takwin al-Aql al-‘Arabi, 96

[3] Muhsin mahdi, ibnu kholdun’s philosophy  of  history (london: George Allen and unwin Ltd, 1957), 179 dan 193

[4] Jamaluddin abd al Rahmin bin al Hasan al Asanawi (w.772), nihayah al Suwl fi Sharh Minhaj al Usul li al Qodhi nasir al din al baidawi (w.685). (bairut alam kutub t.t ) vol. 1,5

[5] Ali sami al Nasyasyar, manhaj al bahth inda mufakkir al islam.

[6] Lihat misalnya muhammad bin ali bin muhammad al Syawkani .

[7] Mansur fauzi al Hallaj pada materi makalah dengan bahasan lafadz yang jelas maksudnya.

[8] Liht muhammad Abu Zahra Usul Fiqh hal 124

[9] Liht Dr. Wahba Al zuhali al Usul Fiqh al Islamiyyah hal 338

[10] Ibid hal 124

[11] Ibid hal 124- 127

[12] Abu daud As sijistani, op.cit., jilid 2, hal 98

[13] Abu daud As sijistani, op.cit., jilid 2, hal 99

[14] Ibid hal 201

[15] Muhammad ismail al Bukhari (Bandung: al Ma’arif,tth) jilid 1 hal 110

[16] Ibid jilid 2 hal 323

[17] Abu Bakar Ibn Muhammad al Sarhksi, Usul al Sarakhsi  (Bairut Darul Kutub al Ilmiyyah1993 jilid 1 hal168

[18] Ibid, lihat juga Abu Bakar Muhammad Ibnu Ahmad al Syarakhsi. Loc. cit

[19] Lihat muhamad adib shalih, op. cit. hal 227

[20] Liht Dr. Wahba Al zuhali al Usul Fiqh al Islamiyyah hal 341

[21] Muhammad Abu Zahro, op. cit., hal 227

[22] Abd al wahhab khalaf, op, cit. hal 175

1 Komentar

  1. Maret 21, 2013 at 6:12 pm

    Omm,, gimana ne nggak jelas,, masak lafadz yang jelas nggak da,,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: