Kontekstualisasi Kitab Kuning (fiqh)

  1. I. Pendahuluan

Indonesia merupakan salah satu negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, dan menjadikan Islam bukan hanya sebagai agama tetapi juga ideologi yang mempengaruhi segala orientasi, pola berfikir (paradigma), pola tingkah laku baik dalam bernegara dan bermasyarakat. Islam dalam hal ini adalah ajaran, ideologi dan sekaligus way of life juga menjadi tradisi yang mendarah daging. Seiring dengan perubahan zaman masyarakat kita sering dihadapkan dengan berbagai permasalahan baru. Dan hal ini membutuhkan legalitas hukum yang pasti dalam pandangan agama Islam agar masyarakat kita bisa menjalani hidup ini dengan penuh keyakinan dan harapan bisa mendapatkan sa’adatun fi ad-daraini.

Pesantren adalah sebuah wahana pendidikan agama Islam, dan merupakan tempat dimana berkumpulnya  para ulama dan para calon ulama (santri) sebagai penerus para nabi[1] yang menyampaikan ajaran samawi. Mereka sering sekali dijadikan rujukan masyarakat dalam mengatasi permasalahan hidup agar mereka bisa mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Pada umumnya para ulama dan santri menjawab pelbagai permasalahan hidup dengan merujuk kepada kitab kuning[2].

Namun yang menjadi permasalahannya adalah apakah kitab kuning sudah cukup  memberikan solusi dalam mengatasi permasalahan masyarakat? Terlebih-lebih pada zaman sekarang yang memilki tingkat permasalahan yang lebih kompleks. Banyak para pakar hukum Islam dari kalangan pesantren (kiyai dan santri) memahami kitab kuning secara tekstual dalam rangka menjawab permasalah yang ada. Sebagai buktinya  dalam putusan forum bahsul masail kita sering mendengar keputusan mauquf (dipending)[3]. Karena permasalahannya tidak ditemukan dalam kitab kuning secara tekstual. Padahal kita tahu bahwa kitab kuning itu  ditulis para ulama salaf dalam rangka menjawab permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat pada saat itu, yang memang memiliki setting sosial yang jelas berbeda dengan era globalisasi.

Dari permasalahan itulah kami mencoba mengangkat sebuah tema kontekstualisasi kitab kuning sebagai tugas mata kuliah fiqh sosial. Semoga tugas yang kami susun ini bisa membuka hati, pikiran serta wawasan kami sebagai santri Ma’had Aly dalam rangka ikut membantu masyarakat dalam mengatasi permasalahan hidup saat ini yang memang begitu kompleksnya.

  1. II. Pembahasan
  1. Pengertian

Istilah konteks, kontekstual, kontekstualisasi sesungguhnya telah banyak diakrabi dunia pesantren. Namun perlu sekali kita kaji terlebih dahulu dari segi kebahsaannya. Konteks itu sendiri diambil dari bahasa inggris context atau dalam bahasa arabnya qarinah atau siyaqul kalam yang berarti situasi yang ada hubungannya atau budaya[4], atau dengan kata lain konteks adalah situasi kondisi yang dilatar belakangi leh sosial budaya. Sedangkan kontekstual berarti yang berhubungan dengan konteks.

Sementara itu kitab kuning adalah sebuah hasil karya tulis para ulama terdahulu yang dicetak berbentuk buku yang menggunakan kertas berwarna kuning.  Kebanyakan pesantren (kiyai dan santri) di pondok pesantren menjadikannya sebagai bahan kajian pendidikan agama. Memang kitab kuning ini sangat menarik untuk dikaji dalam menggali ilmu agama Islam dan pemikiran para ulama terdahulu. Namun tidak semua orang bisa membaca dan memahami isinya, karena banyak disiplin ilmu yang harus dimilki dalam memahaminya.

Kontekstualisasi kitab kuning (fiqh) ialah memposisikan kitab kuning dalam situasi dan kondisi serta sosial budaya yang ada pada saat ini. Konsep ini tetap meletakkan teks-teks kitab kuning sebagai suatu kebenaran yang berlaku dalam segala ruang dan waktu. Kontekstualisasi menurut pengertian di atas adalah menyesuaikan teks-teks kitab kuning dalam konteks yang berbeda dengan tetap mempertahankan konsep dasarnya. Pengertian ini berbeda dengan makna kontekstualisasi yang diberikan oleh sebagian sarjana muslim. Bagi mereka kontekstualisasi adalah upaya memberikan konteks terhadap teks-teks keagamaan dalam konteks sosial budaya, ekonomi, politik[5].

Kajian kontekstual terhadap kitab kuning telah dinilai sebagai suatu metode pemahaman yang tepat untuk mengetahui pesan-pesan substantif isi kitab tersebut sesuai dengan tujuan mualifnya. Penilaian ini diberikan karena disadari bahwa suatu kitab ditulis atau dicetak bukan dalam ruang hampa. Kitab kuning, yang umumnya merupakan penjabaran dan pemahaman dari ajaran-ajaran al-Qur’an dan al-Sunnah, adalah hasil refleksi atas banyak hal yang melingkupi diri mu`allif, di antaranya kondisi sosio-kultural, sosio-politik, kecenderungan pemikiran, dan motif-motif lain yang terkait.

Dalam keputusan Munadharah “Pengembangan al-Ulum al-Diniyyah Melalui Telaah Kitab Secara Kontekstual (Siyaqi)” di PP. Watucongol, Muntilan, Magelang, 15-17 Desember 1988, dijelaskan bahwa definisi pemahaman kitab kuning secara kontekstual adalah[6]:

  1. Suatu proses pemahaman kitab kuning yang mengacu kepada kenyataan syakhshiyyah maupun ijtima’iyyah yang melatarbelakangi kehadirannya.
  2. Upaya memahami kitab kuning yang tidak terbatas pada makna-makna harfiyah, tetapi mampu menyentuh natijah-natijah pemikiran yang menjadi jiwanya.
  3. Proses belajar dan mengajar kitab kuning yang mengacu kepada kegunaan praktis dalam kehidupan masyarakat.

Dengan demikian, tajdid fahm[7] al-syari’ah adalah suatu upaya menjabarkan ajaran Islam, sesuai dengan tuntutan kondisi yang terus berubah untuk mewujudkan kemaslahatan umat, baik di dunia maupun di akhirat dengan malalui al-kutub al-mu’tabarah.

Definisi ini ditetapkan karena didasarkan pada pemahaman bahwa syari’at Islam sebagaimana diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW sesuai dan dapat mengatasi persoalan hidup dalan segala ruang dan waktu, sementara pemikiran manusia sebagai penjabaran pelaksanaannya terikat oleh suatu kehidupan sosial budaya tertentu. Maka fungsi kitab kuning dalam konteks ini seharusnya adalah menjadi suatu wacana yang mampu membuktikan kedudukan al-Qur`an sebagai tibyanan li kulli syai` (penjelas bagi segala sesuatu) dalam kehidupan manusia yang selalu berubah. Sebuah kaidah Itsbat al-tsawabit wa taghyir al-mutaghayyirat harus diterapkan, artinya ajaran Islam yang bersifat qath’iy akan tetap, tidak mengalami perubahan, sementara ajaran Islam yang merupakan produk ijtihad selalu dimungkinkan untuk mengalami perubahan.

  1. Metode Kontekstualisasi Kitab Kuning

Secara umum dapat dikatakan bahwa hampir seluruh ulama menggunakan metode kajian kontekstual, walaupun dengan intensitas penggunaan yang berbeda-beda.

Dalam mengkontekstualisasikan kitab kuning barangkali lebih tepat menggunakan dua pendekatan. Antara lain:

a. Sejarah sosial pemikiran

Dalam hal ini pemikiran hukum Islam. Meminjam pengertian dari M. Atho’ Mudzar[8], pendekatan sejarah sosial dalam pemikiran hukum Islam ialah pendekatan bahwa setiap produk pemikiran hukum Islam pada dasarnya adalah hasil interaksi antara pemikir hukum (atau mu`allif) dengan lingkungan sosio-kultural atau sosio-politik yang mengitarinya. Produk pemikirannya bergantung kepada lingkungan, ruang dan waktu. Pendekatan ini memperkuat alasan dengan menunjuk kepada kenyataan sejarah bahwa produk-produk pemikiran yang sering dianggap sebagai hukum Islam itu sebenarnya tidak lebih dari hasil interaksi tersebut.

Pendekatan ini penting digunakan sedikitnya karena dua hal. Pertama, untuk meletakkan produk pemikiran hukum Islam itu pada tempat yang seharusnya, dan kedua, untuk memberikan tambahan keberanian kepada para pemikir hukum sekarang agar tidak ragu-ragu bila merasa perlu melakukan perubahan suatu produk pemikiran hukum karena sejarah telah membuktikan bahwa umat Islam di pelbagai penjuru dunia telah melakukannya tanpa sedikitpun merasa keluar dari kerangka pemikiran hukum Islam.

b. Substansi nilai-nilai teks

Selain pemahaman terhadap sejarah yang menjadi background timbulnya hukum-hukum yang digali oleh para ulama salaf yang termaktub dalam kitab kuning, kita juga perlu untuk memahami secara substantif dari nilai nilai teks yang telah kodifikasikan para ulama salaf. Karena dengan itulah kita bisa benar-benar memahami pemikiran para ulama terdahulu dengan tidak meninggalkan hasanah klasikal para ulama terdahulu yang tak ternilai.

Kita tidak perlu untuk meninggalkan kitab kuning. Meninggalkan kitab kuning akan mengakibatkan terputusnya mata rantai sejarah dan budaya ilmiyah yang telah dibangun berabad-abad. Menutup kitab kuning berarti menutup jalur keilmuan yang menghubungkan tradisi keilmuan sekarang dengan tradisi keilmuan milik kita pada masa lalu[9]. Hanya kitalah (santri) yang bisa menjaga keutuhan kitab kuning sebagai warisan yang berharga dari ulama salaf, dan kita harus bisa memposisikannya hingga kita bisa terjiwai oleh keilmuan secara konseptual dan tidak menyimpang dari rel keilmuan yang telah dibangun oleh para ulama salaf.

Prinsip al-muhafadhah ‘ala qadim as-shalih wa al-akhdzu bi al-jadidi al-ashlah[10] yang harus kita pegang dalam rangka mengkontekskan kitab kuning dalam menjawab permasalahan umat saat ini.

  1. III. Kesimpulan

Karya ilmiyah para ulama salaf yang tertuang dalam kitab kuning merupakan warisan yang tak ternilai harganya dan patut untuk dijaga. Karena melalui kitab kuning inilah kita bisa memahami pola pikir mereka dalam mengembangkan ajaran Islam dan mengatasi permasalahan yang ada dengan mengedepankan kemaslahatan umat tanpa harus keluar dari jalur Al quraan dan Al hadis yang merupakan sumber  hukum ajaran Islam.

Mengatasi permasalahan saat ini kita harus bisa melakukan tiga gerakan dalam mengkontestualisasikan kitab kuning agar hasil pemikiran kita bisa diterima disemua kalangan. Antara lain: Pertama dengan melihat kebelakang (memahami sejarah pemikiran dan social budaya). Kedua memahami permasalah saat ini. Ketiga memberikan proyeksi terhadap masa depan[11].

Semoga melalui makalah kecil ini kita bisa diberikan kemampuan oleh sang Pembuat syariat Islam dalam mengatasi permasalah dimasa ini dan masa yang akan datang tanpa keluar jalur. Amin ….


[1] وَفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ Hadits yang diriwayatkan dari Abi Darda yang terdapat dalam kitab sunan Turmudzi.

[2] Yang dimaksud disini adalah kitab-kitab mu’tabarah yang berisikan tentang fikih

[3] Sebuah putusan yang menyatakan bahwa permasalahan yang ada sementara tidak ditemukan hukumnya dan menunggu sampai ditemukan hukumnya dalam kitab dan forum bahsul masaail yang lain.

[4] Kamus Besar Bahasa Indonesia. Departemen Pendidikan Nasional. 2002.

[5] Sebagaimana yang tertera dalam artikel Iman Nakhoi’ (Dosen Ma’had Aly sukorejo) yang berjudul Kontekstualisasi Teks-Teks Tradisi Pesantren.

[6] Abduld Moqsith Ghazali Dan Marzuki Wahid Dalm Artikel Pendekatan Kontekstual Terhadap Al Muhadzdzab Al Syaerozy.

[7] Mengubah pola pemahaman dari pemahaman secara tekstual  dengan pemahaman secara kontekstual.

[8] H.M. Atho’ Mudzar, “Pendekatan Sejarah Sosial dalam Pemikiran Hukum Islam”, Makalah pada Seminar KontekstualisasiAjaran Islam, Badan Litbang Depag di Jakarta, 26 Desember 1991. Dimuat dalam Studia Islamika, No. 35 Th. XVI, Pebruari 1992. Hlm. 20.

[9] KH. Sahal Mahfudh. 2004. Nuansa Fiqh Sosial. Yogyakarta. LKIS. Hal . xxxix.

[10] Ibid. Hal xxxvi

[11] H. Muhammad Nafi’ dalam kuliah fiqh sosial, 20 November 2007.

1 Komentar

  1. Mei 23, 2013 at 12:49 pm

    […] [1] Kontekstualisasi Kitab Kuning […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: